Cara Ampuh Jadi Content Writer Start-up Impian Untuk Fresh Graduate

So, kamu tertarik jadi content writer? gak perlu minder karena kamu fresh graduate. Simak tips ampuh diterima jadi content writer startup impian disini.

Yang jelas, untuk menjadi seorang Content Writer dapat diwujudkan apabila memiliki skillset yang sesuai.

featured-cara-menjadi-content-writer

Asik, kamu sudah lulus! Selamat ya! Dunia karir profesional kini menunggumu.

Bayangan kehidupan kerja memang bikin antisias sekaligus deg-degan. Yang jelas, kamu tidak sabar untuk momen di kehidupan dewasamu ini.

Setelah dilihat-lihat, sepertinya menjadi seorang content writer asik, nih. Tapi kok, setelah beberapa kali melamar, panggilan interview belum datang juga ya?

Apakah karena tidak punya pengalaman?

Atau karena latar belakang akademik tidak sesuai?

Tenang, jangan minder dulu, ya. Tidak sedikit kok perusahaan yang membutuhkan Fresh Graduate untuk di rekrut sebagai content writer. Tidak jarang pula, latar belakang akademik bukan menjadi halangan untuk merekrut content writer ke dalam tim.

Nah, lalu apa ‘sih yang menjadi poin utama agar diterima sebagai Content Writer? apa saja skillset atau kemampuan yang dilirik HRD dalam merekrut seorang Content Writer?

Artikel berjudul Cara Ampuh Jadi Content Writer Start-up Impian Untuk Fresh Graduate adalah kumpulan pertimbangan saya beserta digital marketers lainnya dalam merekrut seorang Content Writer. Siap jadi Content Writer? Selamat membaca!

Catatan sebelum memulai:
Ada beberapa istilah yang akan saya gunakan dalam artikel ini

  • User: Calon supervisor atau anggota tim yang akan tektokan sama kamu jika nantinya diterima jadi Content Writer Bisa jadi user ini adalah para C-Level (CEO, CMO, dkk), Senior Writer, Editor atau SEO Specialist. Tergantung dari struktur tim yang sudah terbentuk.
  • HRD: Tim rekruter. “Dinding” pertama yang harus kamu taklukan (haha). Tugasnya menyortir berkas dan menilai personality dari pelamar sebelum akhirnya dinyatakan lolos seleksi pertama dan diteruskan ke user.
Blog-graphic-cara menjadi content writer

Apa itu Content Writer dan Tugas Utamanya?

Dari namanya, dapat disimpulkan bahwa tugas utama seorang content writer adalah menulis konten.

Namun, menulis yang dimaksud itu seperti apa dan untuk apa ya?

Content Writer atau Penulis Konten adalah seseorang yang menulis untuk publikasi digital suatu perusahaan. Konten yang ditulis dikhususkan untuk tujuan pemasaran.

atikahamalia.com

Content Writer atau penulis konten adalah seseorang yang menulis untuk publikasi digital perusahaan. Konten biasanya mengenai produk, jasa atau biasanya tujuan pemasaran atau marketing.

Meskipun terdengar sepele, terdapat peningkatan kemunculan pekerjaan ini di kalangan perusahaan besar maupun skala kecil, terutama yang telah memulai menerapkan strategi pemasaran digital (digital marketing). Hal ini juga terjadi bersamaan dengan tingginya minat job-seekers untuk menjadi seorang content writer.

Demikian, tak sedikit perusahaan yang mengutamakan beberapa jurusan untuk dapat apply menjadi Content Writer di perusahaan mereka. Sebut saja jurusan komunikasi dan Sastra Bahasa.

poster lowongan content writer di startup teknologi
Contoh lowongan content writer untuk salah satu perusahaan teknologi besar di Jakarta
poster lowongan content writer di startup teknologi
Contoh lowongan content writer untuk salah satu perusahaan teknologi besar di Jakarta.

Terus, kalau beda jurusan kuliah berarti ‘enggak bisa jadi Content Writer, dong?

Jawabannya: Tidak.

Siapapun bisa menjadi memulai karir menjadi seorang Content Writer professional, terlepas dari latar belakang pendidikan yang telah ditempuh.

Namun, hal yang perlu digarisbawahi, pastinya ada syarat dan kebutuhan yang patut dipenuhi jika kamu ingin dilirik di perusahaan atau start-up yang kamu idamkan.

Dibawah ini saya akan menjabari beberapa langkah dan tips untuk memenuhi syarat menjadi seorang content writer.

Pertama, mulai rajin menulis blog yuk!

Wajib hukumnya setiap Content Writer memiliki blog atau aktif sebagai kontributor dalam platform blogging seperti Kompasiana, Hipwee, dan lain lain.

Kenapa? Blog adalah pertimbangan utama yang dilirik User dalam seleksi Content Writer.

Simpel. Blog adalah portofolio kamu sebagai Content Writer. Jika ada hal yang ingin dilihat HRD dalam seleksi calon content writer, tentu skill tulisannya. Skill penulisan ini akan sangat terepresentasi dengan baik di tulisan yang sudah di publikasikan.

Memiliki portofolio yang menjanjikan

Portofolio apa yang menjanjikan untuk menjadi Content Writer?

Portofolio seorang content writer dikatakan menjanjikan bila mampu merepresentasikan kredibilitas seseorang dengan memiliki contoh artikel-artikel yang di in-line dengan strategi pemasaran dan identitas perusahaan yang dilamar, maupun yang telah dikerjakan sebelumnya.

Sis, itu maksudnya apalagi?

Dari blog yang kamu miliki, kamu bisa memulai menulis artikel mengenai topik yang kamu suka and be expert on it.

Nah, ini baru topik berkualitas, namun belum tentu hal tersebut menjadikan blog kamu sebagai portofolio yang menjanjikan.

Loh, kok begitu?

Portofolio content writer dikatakan menjanjikan bila kualitas tulisan dianggap memenuhi dan mampu merepresentasikan tujuan pemasaran perusahaan.

Hal ini berkaitan dengan tugas utama seorang Content Writer profesional, yaitu mampu menyampaikan pesan dan value perusahaan ke masyarakat yang menjadi target pasar.

Harapannya, artikel ini mampu menjadi salah satu faktor tercapainya tujuan / goals perusahaan. Seperti mampu meningkatkan awareness, meningkatan jumlah pelanggan, menaikkan citra perusahaan, dan lain lain.

Jika tulisan yang kamu buat tidak in-line dengan target pasar perusahaan, kemungkinan CV kamu kalah prioritas dengan CV pelamar dengan protofolio yang selaras dengan target perusahaan tentu lebih besar.

Agar artikel yang dibuat mampu mewujudkan target diatas, maka setiap artikel wajib memiliki call-to-action atau biasa disingkat CTA.

Contoh CTA yang dimaksud akan dibahas lebih mendalam dibawah ini. Get ready, poin penjelasan dibawah ini akan mengelaborasikan secara detail mengenai CTA dan contohnya.

Begini cara membuat portofolio Content Writer yang menjanjikan

Bagaimana cara membuat portofolio artikel yang sesuai dengan keinginan perusahaan?

Mudah. coba lakukan metode benchmark atau ATM (Amati Tiru Modifikasi) ke blog start-up impian kamu and make it better.

Contoh, jika kamu ingin bekerja di sebuah startup teknologi, maka baiknya blog kamu membahas mengenai teknologi. Atau buat artikel yang berkaitan dengan teknologi dan sertakan dalam aplikasi lamaranmu.

Artikel teknologi enggak melulu tentang berita dan review (ulasan) gadget terbaru. Bisa juga yang berjenis how To’s, tips, maupun Resource.

Hal ini juga berlaku jika perusahaan yang kamu incar adalah ecommerce. Maka, portofolio tulisan yang membahas keunggulan produk dan penggunaannya tentu akan lebih dilirik dibanding artikel yang membahas hal umum saja.

Tapi tapi tapi, saya gak suka topik ini kak.

Then this is your chance! Gunakan kesempatan ini untuk mengasah kemampuan menulismu dan menunjukan kamu dapat menulis walau diluar bidang yang kamu minati. Disini kamu juga dapat menunjukan segi profesionalitas kamu dalam bidang kepenulisan konten.

Nah, untuk contoh portofolio yang berkualitas, kamu bisa nyontek dari blog BukaReview dibawah ini.

Studi Kasus; BukaReview Blog

Sekilas, artikel dari Blog Bukalapak diatas memang membahas mengenai jenis-jenis diet yang dapat menurunkan berat badan dengan cepat.

Namun jika kamu perhatikan gambar dibawah ini, ada sebuah selingan rekomendasi produk makanan sehat setelah judul dan gambar utama artikel.

Tujuannya bukan hanya memberikan informasi pembaca mengenai ‘7 Cara Diet Sehat’, namun juga mengarahkan customer melihat rekomendasi produk untuk mendukung 7 cara diet sehat yang dirangkum dalam artikel.

Bisa disimpulkan, salah satu target pasar dari Bukalapak adalah masyarakat mencari produk kesehatan, contohnya produk diet.

Sehingga Call-to-action (CTA) dari artikel tersebut adalah pembaca akan meng-klik produk yang direkomendasikan.

Harapannya, pembaca akan melakukan transaksi di Bukalapak.

Dengan kata lain, pembaca yang belum memiliki akun BukaLapak akan membuat akun di aplikasi tersebut (new user) dan pengguna lama akan kembali melakukan transaksi (returning user).

Paham dasar SEO, Membaca Google Analytics serta Google Search Console

Ada banyak cabang dalam optimasi search engine. Khusus untuk Content Writer, kamu hanya perlu memahami sebagian dari poin-point tertentu saja.

SEO (Search engine optimization)

Hukumnya wajib. Fardhu ‘ain.

Kenapa pengetahuan tentang SEO wajib dimiliki oleh Content Writer?

SEO (Search Engine Optimization) adalah upaya menjadikan konten website atau blog hadir dalam pencarian teratas, mudah ditemukan pembaca, dan dapat dibaca oleh Google.

Jadi penting banget untuk mengetahui poin-poin apa saja yang dapat membuat konten yang kamu tulis dapat tampil maksimal di mata Google selaku mesin pencarian.

Dengan memahami SEO, seorang content writer akan mengetahui cara riset topik dan keyword yang tepat agar mendatangkan traffic dan mencapai goals  yang sudah ditentukan perusahaan.

Selain itu, seorang content writer yang mengerti konsep dasar SEO juga mengerti format yang akan ditetapkan ke struktur penulisan agar dimengerti oleh mesin pencarian. Sebut saja penggunaan Heading, Meta Description, Slug/Permalink, dan lain lain.

Untuk kamu yang sudah ngulik-ngulik tentang SEO, silahkan buka artikel saya tentang Kesalahan Penulisan Artikel SEO agar terhindar dari kesalahan-kesalahan yang bisa menyebabkan artikelmu hilang dari Google.

Baca juga:
Kesalahan Penulisan Artikel SEO

Sedangkan untuk technical SEO seperti kesesuaian tema dengan struktur web yang di approve mesin pencarian, plug-in dan lain lain , sebenarnya tugas ini sudah masuk ke ranah ke SEO Specialist.

Jika ada recruiter yang meminta kamu menulis dan melakukan Technical SEO seperti ini maka tentu rate kamu bisa ninggi. /evil laugh/

Skill selanjutnya yang tidak kalah penting adalah kemampuan menganalisa dengan Google Analytics untuk mengetahui performa hasil tulisan yang kamu terbitkan.

Mengetahui Performa Blog dari Google Search Console

Malas berkutak-katik dengan aspek teknis performa kontenmu? Maka Google Search Console bisa jadi akan jadi tool andalanmu.

Di Google Search Console (GSC) kamu dapat mendapat notifikasi jika sewaktu-waktu ada masalah teknis terhadap blog yang kamu miliki.

Yang paling penting, di Google Search Console kamu bisa mengetahui Artikel mana yang memiliki jumlah pembaca paling banyak, keyword apa yang mereka gunakan untuk menemukan artikelmu, serta statistik performa blog secara keseluruhan.

Menganalisa dan Menyimpulkan Performa Konten yang Dibuat dengan Google Analytics

Tools dari Google satu ini ibarat rapot hasil belajar dari blog/website milikmu.

Google Analytics adalah sebuah layanan yang menampilkan data statistik dari performa konten yang kamu buat. Dari Google Analytics (Saya biasa singkat GA), kamu dapat mengetahui berapa jumlah pengunjung blog, berapa lama pengunjung membaca blog kamu, demografi pengunjung, dan masih banyak lagi.

Dengan memahami cara menggunakan + memanfaatkan Google Analytics, kamu dapat mengetahui performa konten yang kamu buat dan dapat mengambil kesimpulan berdasarkan data konkret untuk strategi pembuatan konten kedepannya.

Bagi kamu yang masih baru dalam memelajari Google Analytics, kamu dapat memelajari langkah-langkah mengintegrasikan Google Analytics ke blogmu (Blogspot maupun WordPress) di Blog Moz(dot)com.

Biasanya, tolak ukur atau metrics yang wajib kamu ketahui sebagai seorang content writer adalah jumlah users (visitor), bounce rate, average time, dan tentunya seberapa banyak goals yang diraih dari konten yang kamu buat.

Hmm, kayaknya asik nih membahas panduan dasar menggunakan Google Analytics. Bikin gak nih? Comment dibawah yuk!

Melamarlah Selayaknya Job-Seeker Berkualitas

Kali ini, saya enggak pernah bosan mengingatkan walau saya yakin kamu sudah sering melihat tips dibawah ini;

Jangan kosongkan subjek dan body text e-mail.

Jangan typo.

Jangan mengirim dari alamat email yang akoechantiek123 [at] gemail.com

Jangan salah ketik nama perusahaan.

  • Jangan terlambat saat wawancara.

Well, You know the rules.

Selalu ingat bahwa selalu ada kandidat yang lebih baik dari diri sendiri. Oleh karena itu, tidak ada alasan untuk tidak berusaha lebih keras untuk memerhatikan unsur teknis seperti diatas.

Bisa Berbahasa Inggris, Spoken dan Written

Mayoritas perusahaan mewajibkan calon content writer untuk fasih berbahasa Inggris.

Hal ini dikarenakan banyak hal. Mulai dari lingkungan kantor yang berbahasa inggris maupun nantinya kamu ditugaskan untuk membuat konten berbahasa inggris.

Tidak jarang, seorang content writer juga ditugaskan untuk menjadi penerjemah dokumen maupun interpreter yang menyusun konten presentasi berbahasa inggris.

Selain itu, banyak sumber artikel yang terpercaya masih terpublikasi dalam bahasa inggris. Jadi, bisa repot jika content writer tidak mengerti bahasa Inggris sama sekali.

Mengambil Keputusan Berdasar Riset dan Data.

Lagi ngetren ‘nih bertebaran di berbagai lowongan bahwa salah satu recruirement seorang kandidat adalah memiliki data-driven mindset.

Sebagai seorang content writer, memiliki prinsip mengambil segala keputusan bersasarkan riset yang konkret dan dipercaya adalah hal wajib karena akan berpengaruh langsung ke kualitas artikel dan kepercayaan pembaca terhadap website tempat artikel ditampilkan.

Tidak perlu pusing memikirkan: Waduh, ini apalagi?!

Karena untuk mulai menerapkan data-driven mindset dapat dimulai dari bertanya ke diri sendiri;

  • Apakah keyword utama yang saya pilih benar-benar diminati pengguna? Jawabannya dapat dilihat dari hasil research yang dilakukan dnegan Keyword Planner, Google Analytics, Google Search Console maupun melalui tools analytic lainnya.
  • Apakah sumber yang diambil sebagai dasar artikel merupakan sumber yang valid?
  • Apakah pengguna menggunakan keyword ini untuk mencari topik yang ditulis

Dalam kasus ini, setiap perusahaan memilki bobot validalitas yang berbeda-beda pula. Contoh, jika kamu menulis untuk rubik gaya hidup, tentu tidak memerlukan validalitas data sebanyak artikel untuk artikel di rubik kesehatan.

Nah, kamu baru saja selesai membaca langkah dan panduan untuk diterima menjadi content writer profesional di start-up impian kamu. Terus semangat dan semoga beruntung, ya!

Kamu punya tips lain untuk dibagikan ke job-seekers yang berminat menjadi content writer? Share di kolom komentar, yuk!

5 comments
  1. Saya content writer dan bisa dibilang penganut SEO juga

    Yang jadi pertanyaan saya, dari begitu banyaknya hal-hal yang dibutuhkan untuk jadi content writer dari sebuah startup, berapa sih gaji yang didapat?

    Maaf mungkin agak tabu. Karena saya sendiri juga beberapa waktu kedepan ada rencana launching situs startup

    1. Halo! terima kasih sudah membaca ya.
      Mengenai gaji, tentu semua tergantung dari output yang diharapkan perusahaan dari si content writer. Rata-rata di jabodetabek, gaji mengikut dari level pengalaman content writer. Jika memang masih fresh-graduate, biasanya gaji sekitaran ULD alias UMR lebih se(d)ikit, haha.
      Gak jarang juga saya menemui perusahaan teknologi yg butuh content writer expert di bidang teknologi yang mau memberi gaji 7-9jt.

      Namun jika output yang diharapkan dari content writer tidak hanya tulisan, tapi juga performance content, membuat strategi editorial calendar dkk, tentu gajinya bisa lebih tinggi.

      Semoga dapat membantu ya

  2. Nice content ms Atikah! I’m an account executive who has other role as a content writer as well, as an accounting graduates who’s passionate in learning in markeing, currently i’m on the track on focusing deeper in content writing stuffs. these things really helps, godspeed! 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *